29-07-2017.111352 | Dilihat : 103 x
Kombinasi Pemupukan Nitrogen Dan Inokulasi Fusarium Pada Tanaman Gaharu Mampu Tingkatkan Pembentukan Senyawa Aromatik Gubal Gagaru




BPPTHHBK, Pembentukan senyawa aromatik dan warna pada gaharu dapat dipacu dengan pemberian kombinasi pemupukan nitrogen dengan inokulasi fusarium pada tanaman penghasil gaharu. Proses pembentukannya disampaikan secara gamblang oleh Resti Wahyuni pada saat seminar  IUFRO -INAFOR JOINT INTERNATIONAL CONFERENCE yang diselenggarakan pada tanggal 24 – 27 Juli 2017 di Yogyakarta, Indonesia. Pertemuan tersebut dihadiri oleh para peneliti dan berbagai stakeholder dalam dan luar negeri.

Pada presentasinya beliau menegaskan budidaya gaharu bisa menjadi salah satu cara untuk memenuhi permintaan produksi gaharu yang berkelanjutan. Metode inokulasi buatan yang efektif diperlukan untuk mendorong pengembangan gaharu budidaya.

Proses pembentukan gaharu ini cukup rumit, karena  dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya umur pohon, musim, lokasi geografis, lingkungan, spesies, dan waktu (seberapa lama proses pembentukan gaharu tersebut berlagsung). Oleh karena itu diperlukan ujicoba yang berkelanjutan pada situasi dan kondisi yang berbeda. Paparnya.

Peneliti Balitbangtek HHBK ini mencobanya menggunakan bibit tanaman Aquilaria malaccensis yang berumur 10 bulan dengan tinggi sekitar 1 meter. Pemberian fusarium dilakukan dengan menempelkannya pada batang anakan. Sedangkan pemupukan dilakukan bersamaan dengan inokulasi dengan dosis tertentu per anakan dan diulang 45 hari kemudian.  

Fusarium yang digunakan Resti dalam ujicoba ini adalah F.solani yang dikultur pada media padat Potato Dextrose Agar (PDA) dan diinkubasi dalam suhu kamar selama 7 hari. Setelah membentuk koloni di PDA, F. solani dengan miselium berwarna putih dipilih untuk inokulasikan.

Setelah 3 bulan perlakuan kemudian dilakukan pengamatan, hasilnya  cukup menggembirakan, tandasnya.  Pasalnya sesuai harapan dan hipotesisnya. Gaharu yang terbentuk memiliki warna yang berbeda dalam setiap perlakuan. Secara fenotif warna yang coklat paling gelap dan paling harum dihasilkan oleh A. malaccensis yang diberi perlakuan dengan kombinasi pemupukan nitrogen dan inokulasi F. solani. Dengan dosis 4 gram per anakan.

Tiga senyawa kimia yang berhasil teridentifikasi adalah silanadiol dimetil, asam 4-etil benzoat dan 1,4,7,10,13,16- hexaoxacyclooctadecane dengan persentase masing-masing 25,7;  17,62; dan 3,56 persen. A. malaccensis yang dipupuk nitrogen dan di inokulasi F. solani selama 3 bulan mampu menginduksi formasi senyawa aromatik namun warnanya masih coklat tua.

Penemuan ini merupakan harapan baru bagi pengembangan pergaharuan dimasa mendatang, dan menjadi referensi untuk dapat diaplikasikan  pada tanaman dewasa dengan dosis dan perlakuan tertentu. wd

 Buku

 Galery Foto & Video

 Link Terkait




BALAI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI
HASIL HUTAN BUKAN KAYU
Jl. Dharma Bhakti, No. 7, PO-Box 1054, Ds. Langko, Kec. Lingsar,
Kab. Lombok Barat – NTB 83371, Telp. (0370) 6175552, Fax. (0370) 6175482