Responsive image Responsive image

Responsive image Responsive image
Responsive image


Hutan Penelittian

KHDTK Rarung

 

 

 

A. Risalah Kawasan

 

 

1.     Sejarah Kawasan

Sebelum ditunjuk sebagai KHDTK untuk Hutan Penelitian, kawasan  hutan RTK 1 Gunung Rinjani merupakan hutan yang dikelola oleh Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan fungsi lindung. Pada tahun 1997 terjadi perubahan status pengelolaan menjadi Wanariset sesuai Surat Keputusan  Menteri Kehutanan Nomor: 353/Kpts-II/1997, sehingga menjadi laboratorium lapangan yang di dalamnya dilakukan berbagai penelitian dan pengembangan silvikultur, rehabilitasi lahan dan pemberdayaan masyarakat. Berikutnya pada tahun 2004 dikukuhkan menjadi KHDTK untuk penelitian dan pengembangan, pendidikan dan pelatihan sesuai Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: SK.390/Menhut-II/2004 tanggal 18 Oktober 2004 seluas kurang lebih 306,6 hektar. Pengelolaan KHDTK dilakukan oleh Balai Penelitian Kehutanan Wilayah Bali dan Nusa Tenggara.

Sejalan  dengan adanya reorganisasi litbang kehutanan pada tahun 2007 pengelolaan KHDTK Rarung menjadi tanggungjawab Balai Penelitian Kehutanan Mataram dengan core research perhutanan sosial dan ekowisata. Kemudian pada tahun 2010 berubah menjadi Balai Penelitian Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu dengan core research HHBK. Peningkatan status KHDTK Rarung telah diupayakan  sejak tahun 2010 dengan dilakukannya pengukuran tata batas, kemudian ditingkatkan statusnya menjadi penetapan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: SK.4762/MenLHK-PKTL/KUH/PLA-2/10/2016 tanggal 4 Oktober 2016.

2.     Letak, Luas dan Batas

Secara geografis KHDTK Rarung terletak antara 116° 15'  00² - 116°16' 00² BT dan 08° 30' 30² - 08° 30¢ 36² LS,  bila dilihat dari administratif pemerintahan KHDTK Rarung termasuk dalam wilayah pemerintahan Desa Pemepek, Kecamatan Pringgarata dan Desa Karang Sidemen, Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Berada pada ketinggian 300-450 m.

Berdasarkan berita acara tata batas telah ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: SK.4762/MenLHK-PKTL/KUH/PLA-2/10/2016 tanggal 4 Oktober 2016 bahwa luas KHDTK Rarung kurang lebih 325,868 hektar.

Adapun batas - batas kawasan KHDTK Rarung adalah sebagai berikut :

·         Sebelah Utara   berbatasan dengan Kawasan Hutan KPHL Rinjani Barat Pelangan Tastura

·         Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Pemepek Kecamatan Pringgarata Kabupaten Lombok Tengah

·         Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Karang Sidemen  Kecamatan Batukliang Utara Kabupaten Lombok Tengah

·         Sebelah Barat berbatasan dengan Kawasan Hutan KPHL Rinjani Barat Pelangan Tastura

Sesuai Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.24/Menlhk/Setjen/OTL.0/I/2016 tanggal 29 Januari 2016 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu (BPPTHHBK), penyelenggaraan pengelolaan KHDTK Rarung dilaksanakan oleh BPPTHHBK yang bertanggung jawab pada Badan Penelitian Pengembangan dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 

3.    Aksesibilitas

KHDTK Rarung memiliki akses jalan yang cukup baik, jalan umum berupa aspal hotmic telah dibangun oleh pemerintah sampai depan gerbang kantor. Jaraknya kurang lebih 35 km dari Kota Mataram dan dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan umum dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam. Apabila menggunakan kendaraan umum trayek yang ditempuh adalah sebagai berikut : Mataram – Desa Pemepek, Lombok Tengah-KHDTK Rarung. Jarak dan waktu tempuh masing-masing rute adalah sebagai berikut:

 Mataram – KHDTK Rarung jarak 35 km, waktu tempuh 60 menit.

 Praya – Mataram-Pemepek : jarak 70 km, waktu tempuh 2 Jam.

Dari pertigaan Desa Pemepek dapat ditempuh dengan kendaraan umum roda 2.

B. Kondisi Fisik

1.   Topografi

KHDTK Rarung pada umumnya bertopografi landai dengan kemiringan 8-15%, namun dibeberapa tempat gak curam sampai curam dengan sudut kemiringan yang bervariasi antara 45 – 100 %, terutama disekitar sungai dan punggung bukit. Berdada pada wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Sedau dan Tereng. Sedangkan berdasarkan ketinggian kawasan berada pada ketinggian 350 sampai dengan 450 m dpl.  

2.   Geologi dan Tanah

Secara geologi KHDTK Rarung terdiri dari batuan yang berasal dari letusan Gunung Rinjani. Sedangkan jenis tanahnya termasuk ke dalam jenis tanah mediteran coklat dengan tekstur lempung berpasir dengan tingkat porositas cukup baik.

3.   Iklim

Wilayah KHDTK Rarung secara umum memiliki tipe iklim C yaitu agak basah berdasakan klasifikasi iklim menurut Schemit dan Ferguson, memiliki curah hujan tahunan antara 2.000-2.500 mm, dengan 90-125 hari hujan. Curah hujan maksimum terjadi pada Bulan November. 

4.  Hidrologi

Setidaknya terdapat 3 sumber mata air yang dimanfaatkan masyarakat sekitar yaitu mata air sedau yang terdapat di aliran Debit mata air Sedau selama tahun 2009 adalah 32.123,18 m3, Merta Pao 2,82 m3 dan Eyat Gue 8.652,76 m3.  Debit mata air Sedau tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan debit tahun 2008 yang besarnya 29.948,18 m3Sedangkan untuk debit mata air Merta Pao  dan Eyat Gue lebih rendah yaitu 2,82 m3 dan 8.652,76 m3

5.   Hidrologi

C. Potensi

1.     Potensi Hayati

Flora

Potensi vegetasi KHDTK Hutan Penelitian Rarung cukup besar dan sudah dikenal oleh masyarakat maupun instansi pemerintahan. Di dalam KHDTK Rarung terdapat koleksi 25 jenis tanaman hasil penelitian maupun koleksi jenis yang ditanam s/d tahun 1997 pada luasan ± 40 ha. Beberapa jenis tanaman tersebut merupakan jenis komersial dan eksotik sehingga  menjadi plot ujicoba yang cukup berhasil. Beberapa jenis lainnya adalah jenis lokal sebagai koleksi yang berfungsi sebagai sarana pengenalan dan penyelamatan jenis.

Dari koleksi 25 jenis tanaman di atas, 5 jenis diantaranya  sudah mendapat sertifikasi tegakan benih terindentifikasi dari Balai Perbenihan Tanaman Hutan Wilayah Bali Nusra. Dengan demikian menjadi peluang untuk pemasaran benih bersertifikat, yaitu untuk jenis  rajumas, klicung, mahoni, klokos dan bayur.

Koleksi jenis lokal di KHDTK Rarung terdiri dari: elar, kelokos, goa, waru, dadap, bajur, kesambi, bangsal, cempaka, jukut, kemiri, mindi, nyamplung, senirang, udu dan sandat.  Jenis komersil, yaitu: gaharu, mahoni, jati, majegau, rajumas. Jenis eksotik, yaitu: ampupu, kayu putih, cendana dan suren. Sedangkan dalam rangka pembuatan demplot HKm, telah dikembangkan kombinasi jenis tanaman buah-buahan dan tanaman kayu-kayuan, diantaranya kombinasi jenis sengon, kakau, melinjo, dan pete. Selain tanaman kayu dan tanaman tahunan lainnya, ditanam juga 5 jenis bambu dan 1 jenis bambu yang dikembangkan dalam skala yang lebih luas.

Fauna

Potensi satwa yang terdapat di KHDTK Rarung secara alami di dominasi oleh kera abu dan lutung ekor panjang. Satwa yang dikembangkan untuk kepentingan budidaya adalah rusa timor (Cervus timorensis timorensis) dan Lebah klanceng (Trigona sp).

Sebagai kawasan hutan yang diperuntukan bagi sarana aktivitas penelitian dan pengembangan, KHDTK Rarung memiliki potensi daya tarik yang tinggi bagi penyebarluasan hasil-hasil iptek pengelolaan dan pemanfaatan hutan dan hasil hutan dalam skala demplot. Potensi tersebut sangat mendukung bagi pengembangan dan penyebarluasan iptek bidang kehutanan berbasis demplot baik pengelolaan hutan, pemanfaatan hutan dan hasil hutan serta keterlibatan masyarakat di dalamnya. Sehingga sangat layak untuk dikembangkan menjadi wisata pendidikan.

 

 

 

2.     Potensi Non Hayati

KHDTK Rarung merupakan salah satu kawasan hutan yang diperuntukan sebagai sarana untuk aktivitas penelitian dan pengembangan sehingga memiliki potensi daya tarik yang tinggi bagi penyebarluasan hasil-hasil iptek pengelolaan dan pemanfaatan hutan dan hasil hutan dalam skala demplot. Lanskap yang datar sampai bergelombang di KHDTK Rarung juga memiliki daya tarik tersediri bagi wisata, dan sangat layak untuk dipertahankan serta dikembangkan sebagai alternatif daerah tujuan wisata di Pulau Lombok, potensi tersebut antara lain :

a.      Panorama Alam

KHDTK Rarung berada pada kaki Gunung Rinjani dimana memiliki topografi yang relative lengkap mulai datar, bergelombang sampai curam membentuk pegunungan serta sungai sehingga terbentuk lanskape hutan yang lengkap dan dapat dinikmati dari atas bukit yang ada di kawasan KHDTK Rarung.

Berdasarkan potensi tersebut beberapa aktivitas wisata yang dapat dikembangkan yaitu  jungle tracking, foto hunting, dan wisata pendidikan.

b.     Bendungan Air dan Irigasi (Danau)

Di bagian utara KHDTK Rarung berbatasan dengan wilayah Tahura Nuraksa terdapat bendungan air dan irigasi yang menyerupai danau, karena jenernihan air dan pengaruh ganggang yang terdapat dalam danau tersebut menjadikan warnanya terlihat biru, sehingga masyarakat sekitar menyebutnya “danau biru”.

 

Adanya aksesoris berupa kincir pengatur aliran air dan demplot Hutan Kemasyarakatan yang mengembangkan kopi dan umbi-umbian disekitar “danau” menambah daya tarik bagi pengunjung. Keindahan “danau biru” ini dapat dinikmati sepanjang tahun karena debit air yang mengalir di sungai tersebut cukup terjaga.

 

 

c.    Budaya lokal

KHDTK Rarung sejak awal telah dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Masyarakat memanfaatkan hasil hutan bukan kayu seperti kemiri, rebung, pakis dan lainnya seperti pengambilan hijauan pakan ternak dan memanfaatkan lahan di bawah tegakan hutan untuk bercocok tanam  secara slektif dengan prinsip kelestarian lingkungan. Potensi tersebut merupakan salah satu bentuk kearifan masyarakat lokal dalam mengelola dan memanfaatkan  hutan.