Responsive image Responsive image

Responsive image Responsive image
Responsive image


Berita Detail

dilihat 19x

Pranajiwa: Tak sekedar peningkat stamina


Responsive image


Tanaman obat atau yang sering dikenal dengan tanaman herbal ini sangat penting untuk diketahui. Penggunaan tumbuhan herbal sebagai metode penyembuhan diyakini lebih aman dari pada penggunaan obat yang mengandung bahan kimia. Salah satu tanaman herbal yang cukup terkenal di kalangan ahli pengobatan tradisional dari tumbuhan (herbalis) di NTB dan Bali adalah pranajiwa (Euchresta horsfieldii).

Tanaman ini dikelompokan sebagai perdu yang tumbuh liar di hutan dan dikategorikan sebagai tumbuhan langka karena keberadaannya semakin sulit ditemukan. Pranajiwa dipercaya masyarakat memiliki beragam manfaat. Ahli pengobatan tradisional Bali mempercayai buah pranajiwa memiliki zat yang berkhasiat untuk meningkatkan stamina pria (aprodisiak). Sumber lain menyebutkan pranajiwa juga digunakan untuk menetralisir racun ular dan obat TBC.  Potensi tersebut perlu diteliti dan diuji lebih lanjut secara ilmiah, agar kandungan senyawa fitokimianya dapat diketahui secara pasti. Untuk itu peneliti Balai Litbang Teknologi HHBK melakukan kajian terhadap seluruh bagian tanaman pranajiwa untuk mengetahui golongan senyawa kimia yang dikandungnya, beserta pengujian potensi obat-obatannya termasuk aktivitas antibakteri.

Prihantini dkk., dalam publikasi ilmiahnya di Jurnal Ilmu Kehutanan Volume 12 Nomor 2 tahun 2018 membeberkan hasil uji fitokimia yang menunjukan bahwa alkaloid sebagai komponen senyawa yang paling dominan terdapat pada pranajiwa dan terdeteksi di setiap bagian tanaman (akar, batang, daun, dan biji). Bagian akar pranajiwa terdeteksi memiliki komponen senyawa yang paling bervariasi seperti alkaloid, tanin, flavonoid, saponin, dan terpenoid.  Analisis lebih lanjut bagian batang, akar, dan biji pranajiwa mengandung mome inositol, sophoridane, dan asam lemak seperti asam palmitat dan asam stearat sebagai komponen utamanya.

Pengujian aktivitas antibakteri pranajiwa mengindikasikan bagian batang dan akar memiliki aktivitas antibateri  terhadap Staphylococccus  aureus Inacc-B4 dan Escherchia coli Inacc B-5, sedangkan bagian bijinya memiliki aktivitas antibakteri  terhadap Bacilus subtilis Inacc-B-334 dan Staphylococccus aureus Inacc-B4.  Dalam kesimpulannya beliau menegaskan bahwa hasil penelitian ini telah menunjukkan potensi dari pranajiwa  sebagai sumber alternatif obat antibakteri dan secara tidak langsung mendukung upaya pengembangan  tanaman-tanaman obat di Indonesia. Sebagai tindak lanjut dari penelitian ini, perlu dilakukan isolasi  senyawa yang berperan dalam aktivitas antibakteri tersebut. (wd)   

 
 

;

Galery Foto & Video

Video


Foto
Responsive image Responsive image




Link Terkait

Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image