Responsive image Responsive image

Responsive image Responsive image
Responsive image


Berita Detail

dilihat 1x

Pemanfaatan Tumbuhan Pranajiwa Berbasis Kearifan Lokal Dipresentasikan pada Seminar Internasional IUFRO di Taiwan


Responsive image


 

 

 

 

 

 

Balitek HHBK (Mataram, September 2018)_Pranajiwa sebagai tumbuhan berkhasiat obat telah diketahui oleh banyak khalayak, namun aspek pemanfaatan berbasis pengetahuan dan kearifan lokal belum banyak dikaji. Kondisi ini mendorong peneliti Balai Litbang Teknologi HHBK (Balitek HHBK), Rubangi Al Hasan melakukan penelitian terkait pemanfaatan pranajiwa oleh masyarakat. Hasil penelitian tersebut kemudian dipresentasikannya pada The International Symposium of SFEM/IUFRO 4.02.02di Sun Moon Lake, Taiwan. Yang menarik dari paparan Hasan adalah adanya kearifan lokal dalam pemanfaatan dan konservasi pranajiwa. “Di sini pranajiwa hanya diambil dari hutan, sementara mengambilnya harus dengan memberikan sesaji kepada penunggu tanaman pranajiwa. Masyarakat meyakini bahwa pranajiwa ditunggui oleh macan, macan ini memakan buah pranajiwa. Karena itu kita jarang menemukan biji pranajiwa di bawah pohon karena sudah dimakan oleh macan,” ungkap Hasan.

 

 

 

 

 

 

 

Hasan menjelaskan, dengan adanya kepercayaan tersebut, keberadaan pranajiwa di hutan menjadi tetap terjaga. Orang tidak berani mengeksploitasi secara berlebihan karena khawatir akan terjadi hal yang buruk atas dirinya. Masyarakat hanya mengambil secukupnya sesuai dengan kebutuhannya. Pada seminar yang be

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

rlangsung pada 28 - 31 Agustus 2018 ini, peneliti yang akrab disapa Hasan tersebut fokus memaparkan mengenai bagaimana peran balian (dukun) dalam melakukan pengobatan dengan memanfaatkan tanaman pranajiwa sebagai obatnya. Dalam presentasinya pada seminar bertema “Combining Multiple Inventory Techniques and Management Science to Preserve Forest Ecosystem for Future Generation” ini, Hasan memaparkan bahwa para balian memanfaatkan pranajiwa sebagai obat untuk berbagai macam penyakit. “Penyakit yang dapat diobati dengan pranajiwa antara lain pendarahan, darah rendah, impotensi, rematik, usus buntu, diabetes, dan berbagai penyakit lain. Jenis penyakit yang dapat diobati meliputi penyakit dalam maupun penyakit luar,” papar Hasan. Pranajiwa dapat dikonsumsi dengan ditelan (oral) dan ada pula yang menggunakan teknik pengobatan non oral (dipijat maupun diboreh (?)). Teknik pengobatan dengan cara ditelan, secara umum pranajiwa tidak dicampur dengan jenis obat-obatan lain. Sedangkan untuk teknik pengobatan dengan dipijatkan biasanya dicampur dengan ramuan lain untuk menambah khasiat obat. Seminar yang diselenggarakan atas kerjasama IUFRO dengan National Chiayi University tersebut menghadirkan keynote speech dari Jepang yakni Prof. Norihiko Shiraishi dari University of Tokyo.  Selain itu dihadirkan pula pembicara dari Belgia, dan Korea. Adapun peserta yang hadir berasal dari negara Jepang, Korea, Kamboja, Indonesia, Sri Lanka, Malaysia dan Taiwan sebagai tuan rumah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

;

Galery Foto & Video

Video


Foto
Responsive image Responsive image




Link Terkait

Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image