Responsive image Responsive image

Responsive image Responsive image
Responsive image


Berita Detail

dilihat 53x

BPPTHHBK – BALITRO : Membangun Sinergi untuk Ciptakan Produk Aromaterapi


Responsive image


BPPTHHBK, 04-11- 2018. Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu (BPPTHHBK), Badan Litbang dan Inovasi, Kementerian LHK, telah melaksanakan penandatanganan Nota Kesepahaman dengan Balai  Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), Badan Litbang Pertanian, Kementerian  Pertanian, tentang pemanfaatan Ekstrak Tanaman Atsiri pada hari Jumat, 2 November 2018, di Kantor Balitro Jalan Tentara Pelajar No 3, Kampus Penelitian Pertanian Cimanggu Bogor. Penandatanganan Nota Kesepahaman dilakukan oleh Kepala BPPTHHBK, Bintarto Wahyu Wardani, S.Hut., M.Sc., dengan Kepala Balittro, Dr. Ir. Wiratno, M.Env, Mgt., disaksikan oleh beberapa perwakilan peneliti dan unsur manajemen dari kedua pihak. Kedua pucuk pimpinan sama-sama memiliki optimisme bahwa sinergi riset yang akan dilakukan dapat menghasilkan produk aromaterapi yang inovatif.  Lebih jauh lagi, sinergi ini menjadi langkah awal untuk kerjasama dengan topik-topik  riset lainnya di masa yang akan dating. Tandas Bintarto. Agus Sukito, PhD., selaku Ketua Kelompok Peneliti Pengujian BPPTHHBK menjelaskan bahwa Nota Kesepahaman ini bertujuan untuk mensinergikan fokus keunggulan masing-masing lembaga PUI dengan memanfaatkan tanaman atsiri (pala, nilam, salam, koja, serai dapur) dan ampupu (Eucalyptus urophylla) sebagai bahan untuk aromaterapi.

 

 

 

Balittro merupakan institusi di lingkup Badan Litbang Pertanian memiliki mandat melaksanakan penelitian tanaman rempah, obat dan atsiri meliputi bidang pemuliaan, ekofisiologi serta proteksi tanaman. Sedangkan BPPTHHBK merupakan Institusi di lingkungan Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia yang memiliki mandat melaksanakan kegiatan penelitian dan pengembangan dibidang teknologi hasil hutan bukan kayu serta melaksanakan kegiatan penelitian dan pengembangan yang menjadi kebutuhan daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, meliputi budidaya, teknologi pengolahan dan pengujian, serta sosial ekonomi hasil hutan bukan kayu. Penandatanganan nota ini menjadi penting karena merupakan kerja sama dua lembaga riset lintas kementerian yang menunjukkan indikasi ego sektoral mulai ditinggalkan, dan sinergi antar lembaga pemerintah menjadi sebuah trend baru.  Bagi BPPTHHBK sendiri, kerja sama dengan Balittro ini menambah daftar lembaga riset yang bekerjasama di bidang penelitian dan pengembangan serta pengabdian masyarakat. Papar Agus. Secara khusus terkait dengan penandatanganan Nota Kesepahaman bersama Balittro, kerja sama antar lembaga riset yang berbeda keahlian ini diharapkan bersinergi menghasilkan formula aroma terapi. Namun lebih dari itu, penandatangnan nota ini diharapkan dapat memicu sinergi baru pada tema-tema riset yang lainnya. (*AS)

 

 

;

Galery Foto & Video

Video


Foto
Responsive image Responsive image




Link Terkait

Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image