Responsive image Responsive image

Responsive image Responsive image
Responsive image


Berita Detail

dilihat 51x

Komoditas HHBK Secara Nyata Sangat Potensial Untuk Adaptasi Perubahan Iklim


Responsive image


Joint International Conference (JIC) On Hydro-Meteorological Disaster Mitigation Under Global Change diselenggarakan oleh Klinik Lingkungan dan Mitigasi Bencana (KLMB), Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerjasama dengan Badan Penelitian Pengembangan dan Inovasi (BLI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). BLI diwakili oleh beberapa UPT yang terlibat dalam penyelenggaraan acara ini, selain itu UPT-UPT ini adalah UPT yang mendapat predikat sebagai Pusat Unggulan Iptek (PUI), yaitu Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim (P3SEKPI), Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (B2P2BPTH) Yogyakarta, Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BP2TPDAS) Solo dan Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu (BP2THHBK) Mataram. Konferensi ini dihadiri lebih dari 120 peserta yang berasal dari KLHK, UGM, BNPB dan beberapa pihak terkait.

Konferensi ini dibuka oleh Dr. Syaiful Anwar, Kepala P3SEKPI dalam kapasitasnya mewakili Kepala BLI di Auditorium Merapi, Fakultas Geografi UGM, Kamis 29/11/2018. Dalam sambutannya dia mengatakan “konferensi ini penting untuk diadakan, yang memungkinkan semua pemangku kepentingan termasuk peneliti, akademisi, sektor swasta, pembuat kebijakan dan para pihak berbagi ide dalam merumuskan temuan penelitian dan memecahkan masalah mengenai antisipasi dan mitigasi bencana”. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan output yaitu metode untuk mengurangi bencana, kebijakan untuk mengurangi bencana dan dampak bencana, penyediaan spesies adaptif dan diadakannya hutan tanaman dengan spesies yang secara genetik telah dimuliakan untuk menghindari/tahan terhadap bencana alam.

Menurutnya, tema Mitigasi Bencana Hidro-meteorologi dalam Perubahan Global secara khusus dipilih dengan mempertimbangkan lokasi Indonesia yang ada di Cincin Api Pasifik, dan 90% wilayah Indonesia rawan gempa bumi. Indonesia juga berada di khatulistiwa, di mana bencana hidrometeorologi juga rentan terjadi. Selain itu, kebakaran hutan yang terjadi di kawasan hutan Indonesia menjadi semakin rumit untuk ditangani. Dia mencontohkan bencana gempa, tsunami dan likuifaksi yang menghantam Palu, Donggala dan Mamuju di Sulawesi Tengah.

Sementara itu, Prof. Suratman, Kepala (KLMB) mengatakan, pemanasan global dan perubahan iklim sering terkait erat dengan bencana Hidro-Meteorologi yang terjadi di seluruh dunia. “Salah satu fenomena yang dipengaruhi oleh pemanasan global adalah perubahan pola cuaca. Fenomena ini secara langsung mempengaruhi manusia. Perubahan cuaca mempunyai pola yang tidak dapat diprediksi, jumlah dan intensitas curah hujan, dan yang paling memprihatinkan adalah kelangkaan air,” papar Prof. Suratman. Sebagai konsekuensi dari perubahan iklim, bencana semakin sulit dihindari, dan dapat menyebabkan kerugian tidak hanya materi tetapi juga kerugian immaterial.

Salah seorang keynote speaker pada konferensi ini adalah Agus Sukito, S.Hut., M.Agr. PH.D, peneliti BP2THHBK. Dia memaparkan makalah dengan judul “Prospective of Non Timber Forest Product Plant Species For Climate Change Adaptation, Agus menjelaskan berdasarkan Permenhut P.35/Menhut-II/2007, jenis-jenis tanaman Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) telah ditetapkan sebagai dasar untuk pengembangan produk-produk HHBK. Berdasarkan Permenhut tersebut terdapat sekitar 490 komoditas (lebih dari 520 jenis) dari kelompok tumbuhan dan tanaman, serta 75 komoditas (lebih dari 75 jenis) dari kelompok hewan. Jenis-jenis HHBK yang diteliti oleh BP2THHBK dan juga potensial untuk adaptasi perubahan iklim antara lain gaharu, cendana, bambu, rumput ketak, biofuel dan tanaman obat. Sementara Rubangi Al Hasan, S.Sos., MPA, salah seorang peneliti BP2THHBK yang turut menyampaikan makalahnya dalam konferensi ini menyampaikan tentang rantai pemasaran dan peluang budidaya rumput ketak sebagai bahan baku kerajinan, diharapkan  rumput ketak dapat mengurangi dampak pemanasan global dan juga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Selain itu juga menghadirkan Prof. Ludwig Ellenberg dari Humboldt University-Berlin dan Prof. Seca Gandaseca dari Universiti Putra Malaysia. (an)

;

Galery Foto & Video

Video


Foto
Responsive image Responsive image




Link Terkait

Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image