Responsive image Responsive image

Responsive image Responsive image
Responsive image


Berita Detail

dilihat 332x

Dengan Teknologi, Konservasi Bambu Tabah Di KHDTK Rarung Membawa Berkah Ekologi Dan Rupiah Bagi masyarakat Sekitar


Responsive image


Lombok, 07 Pebruari 2019. Kolaborasi multi stakehorder kembali dilakukan oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu (BP2THHBK), Yayasan KEHATI, Puslit Bambu Universitas Udayana  dan Kelompok Tani Patuh Angen dalam upaya mendukung peningkatan pengurusan hutan dan peningkatkan nilai tambah dari keberadaan hutan serta hasil hutan, melalui program Program Konservasi dan Pemanfaatan Bambu Tabah Berbasis Masyarakat untuk Perbaikan Ekologi dan Ekonomi Petani di KHDTK Rarung” 

Pengembangan bambu tabah (Gigantochloa nigrosiliata) oleh BP2THHBK di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) untuk penelitian Rarung telah dilakukan sejak tahun 2015. Sampai dengan tahun 2018 telah tertanam sekitar 7200 rumpun pada luasan sekitar 12 ha. Penanaman dalam bentuk demplot ujicoba dan sekaligus penanaman di lahan garapan. Dengan teknologi budidaya yang tepat rumpun bambu tabah yang berusia 3 tahun mulai terlihat hasilnya, di musim penghujan tahun 2019 ini, bambu-bambu tersebut telah dapat dipanen rebungnya. Dari rumpun yang baik dapat dihasilkan 10-20 batang rebung. Acara seremoni ini dihadiri oleh stakeholder terkait dari berbagai unsur pemerintah, perguruan tinggi dan swasta, NGO serta masyarakat petani pengelola lahan KHDTK Rarung. Setelah penyampaian sambutan dari perwakilan berbagai institusi, seluruh undangan diajak untuk penanaman bambu tabah dan melakukan panen perdana rebung bambu tabuh, hasil penanaman 2015-2016.

Kepala BP2THHBK sangat mengapresiasi kerjasama tersebut. Pengembangan bambu tabah di KDHTK Rarung merupakan upaya pengakayaan jenis Hasil Hutan Bukan Kayu di kawasan hutan lindung, dikelola dengan model agroforestri sehingga dapat meningkatkan fungsi ekologis sebagai pengatur tata air, dan percegahan banjir/longsor serta meningkatkan ekonomi petani yang terlibat dalam pengelolaan hutan.“Harapannya ke depan kelompok tani Patuh Angen dengan pengelolaan bambunya ini menjadi model yang dapat ditiru dan menjadi inspirasi bagi 5 (lima) kelompok tani yang ada di KHDTK Rarung maupun kelompok tani lain di luar KHDTK Rarung” menurut Kepala BPPTHHBK. Lebih lanjut, Bintarto Wahyu Wardhani, S.Hut. M.Sc menegaskan hal ini sejalan dengan fungsi KHDTK Rarung sebagai laboratorium lapangan dan menjadi model pengelolaan hutan lestari yang dapat direplikasi di tempat lain.

Menurut Oman Somantri, S.Hut. M.Si, dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB, potensi tanaman bambu di NTB cukup banyak tumbuh liar di kawasan hutan terutama bambu duri, sampai saat ini belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Beliau berharap ada penelitian untuk memanfaatkan bambu tersebut, agar memiliki nilai tambah. Bambu tabah juga sangat memungkinkan untuk dapat dikembangkan di Kawasan Hutan. Mengingat fungsi ekologi yang baik untuk menyimpan air dan manfaatnya bambu yang sangat beragam. Paparnya.

Pelestarian dan pemanfaatan bambu juga menjadi salah satu fokus utama bagi Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia. “Indonesia memiliki banyak jenis bambu yang kini terancam kelestariannya. KEHATI sangat mendorong masyarakat untuk kembali melestarikan plasma nutfah yang mempunyai manfaat ekonomi dan ekologi ”Ujar Rika Anggraini, Direktur Komunikasi dan Penggalangan Sumber Daya Yayasan KEHATI.

Di wilayah NTB terutama di KHDTK Rarung pertumbuhan bambu sangat baik, dapat dilihat hasil penanaman bambu tabah tahun 2016 sangat subur dan sudah menghasilkan rebung yang bisa menjadi tambahan pendapatan kelompok. “Karena selain dukungan bibit, bekerjsama dengan PT. CIMB Niaga, kami juga memberikan peningkatan kapasitas masyarakat berupa pelatihan budidaya dan pengolahan pasca panen sampai pada pengemasan,” tambahnya.

Produk turunan dari bahan baku bambu sangat beragam, seperti sebagai bahan industri rumah tangga, meubel, arang aktif, asap cair untuk pengawet dan biopestisida, sumpit, industri kertas, teh daun bambu, dan lainnya, sehingga boleh dikatakan tidak ada batang bambu yang terbuang bahkan rebungnya selain untuk pangan sedang diteliti juga khasiatnya sebagai penambah stamina.

Dari sisi pangan, rebung bambu merupakan produk makanan memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi dan memiliki prospek untuk diekspor, namun perlu diperhatikan juga bahwa tidak semua jenis bambu dapat dimanfaatkan rebungnya untuk dijadikan bahan makanan. Rebung merupakan produk utama dari bambu tabah karena rebungnya memiliki rasa yang hambar dan tidak pahit serta telah diteliti memilki kadar HCN yang rendah sehingga aman untuk dikonsumsi” Ujar Dr. PK. Diah Kencana, pengajar sekaligus ahli bambu tabah dari Universitas Udayana.  Keyakinan beliau bertambah ketika melihat rebung bambu tabah yang disukai monyet. Hal ini menguatkan kajiannya bahwa rebung bambu tabah dalam keadaan mentahpun aman untuk dikonsumsi.

Teknologi pengolahan dan pengemasan melalui vakum, rebung dapat bertahan sampai 1 tahun. Sehingga rebung dapat disimpan untuk memenuhi pasar di musim kemarau saat rumpun bambu tidak menumbuhkan rebung. “Kita tidak perlu merubah alam, merekayasanya agar rumpun bambu menghasilkan rebung setiap saat, karena itu akan  merubah siklus hidupnya bambu dan berakibat pada rusaknya rumpun bambu” Jelasnya. Diah menyampaikan, target pasar dari bambu tabah ini adalah pasar ekspor yaitu negara Korea, Jepang dan Cina yang memerlukan proses higienis. Peluang pasar ekspor sangat terbuka dan belum terpenuhi, pasar domestik seperti Bali juga masih kekurangan pasokan, sehingga pasar bambu tabah masih sangat terbuka lebar. “saya tantang Lombok menjadi pusat produksi rebung untuk tujuan ekspor” tandasnya. “Kalo petaninya sejahtera pasti hutannya aman” kata Syukri Ketua Kelompok Patuh Angen. Kartena itu selain untuk konservasi, kepentingan ekonomi juga menjadi salah satu yang diharapkan oleh petani. Dengan teknologi budidaya, teknologi pengolahan dan peralatan yang memadai petani berkeyakinan program ini akan berdampak positif bagi petani. Terbukti dari berbagai produk HHBK yang telah dihasilkan petani seperti rebung bambu tabah, kopi, madu dan pakis yang dipamerkan dan laris diborong oleh peserta dan tamu undangan.

Memperhatikan fungsi ekologi dan ekonomi serta potensi kawasan yang luas, kesesuaian lahan dan pasar yang terbuka, pengembangan bambu tabah dalam skala luas ke depan perlu juga dikaji dan dipertimbangkan oleh pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB menjadi salah satu pilihan untuk dikembangkan di kawasan Hutan. 

 

 

 

 

;

Galery Foto & Video

Video


Foto
Responsive image Responsive image




Link Terkait

Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image