Responsive image Responsive image

Responsive image Responsive image
Responsive image


Berita Detail

dilihat 423x

KUNJUNGI PETANI SOSIALISASIKAN PRODUKSI GAHARU DENGAN SIMPORI


Responsive image


Lombok, 12-2-2019.  Di penghujung tahun 2018 yang lalu, tim pengembangan gaharu dari Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu (BPPTHHBK) melakukan penyebarluasan hasil pengembangan teknologi inokulasi gaharu dengan teknik simpori. Sosialisasi ini dilakukan secara door to door langsung ke petani yang memiliki tanaman gaharu dan siap untuk di inokulasi di Desa Genggelang, Kabupaten Lombok Utara dan di Desa Batu Kumbung,  Kabupaten Lombok Barat. Penyebarluasan secara langsung ke kebun-bebun masyarakat ini menurut Resti Wahyuni, S.Si., M.Si peneliti yang menahkodai pengembangan gaharu di BPPTHHBK, merupakan cara efektif untuk memasyarakatkan teknologi hasil penelitian yang dilakukan BPPTHHBK. Karena petani dapat menerima teknologi dan mencobanya secara langsung pada pohon gaharu miliknya. Sehingga petani lebih serius dan lebih menghayati apa yang mereka lakukan. Tandasnya

Selain itu juga Resti berpendapat bahwa dengan kunjungan langsung ke petani akan terjalin hubungan yang baik antara peneliti dan petani, sehingga dapat membangun dan menciptakan kepercayaan untuk saling mendukung mencapai keberhasilan peoses inokulasi.  “Kami menyadari kegiatan pengembangan gaharu di Lombok Utara atau di lokasi lain yang dilakukan masyarakat memiliki kendala di lapangan, baik teknik budidaya, teknik produksi maupun teknik penanganan pascapanen” kata RestiSejalan dengan pengakuan Herman Budasih saat berkunjung ke kantor Balitbangtek HHBK di Desa Langko - Kabupaten Lombok BaratKami memiliki banyak pohon gaharu tapi sampai saat ini belum menemukan teknologi yang tepat untuk memproduksinya”. Sebagai Ketua Kelompok Batu Kumbung Beliau menjemput bola untuk menggali informasi tentang gaharu.

 

Teknik Inokulasi Simpori saat ini merupakan teknik inokulasi yang cukup baik dan terus diupayakan untuk penyempurnaanya melalui kegiatan pengembangan. Kata Resti, Pengembangan teknik inokulasi gaharu dengan simpori saat ini telah memasuki panen kedua dengan umur inokulasi 1,5 tahun, hasilnya cukup menggembirakan, karena terjadi peningkatan kualitas/grade jika dibandingkan dengan hasil pemanenan saat umur 7 bulan inokulasi. Paparnya.   “Peningkatan kualitas gaharu dari kemedangan TG.C menjadi kemedangan A dan B, ini artinya ada harapan positif bagi pengembangan gaharu ke depan” dengan nada tinggi, seolah-olah beliau ingin memberikan keyakinan pada petani.“Meskipun pada semua ujicoba tidak mengalami peningkatan rendemen (berat gaharu)”, Tambahnya.

Selain dibekali teknik inokulasi dengan simpori dan praktek langsung di pohon miliknya, petani juga mendapatkan peralatan dan bahan yang dibutukan seperti paku simpori, pipet plastik, dan inokulan pembentuk gaharu. Harapannya kelompok tani lebih antusias dalam menerapkan dan mengaplikasikan di lapangan. Kelompok tani Batu Kumbung sangat mengapresiasi atas upaya BPPTHHBK yang telah membimbing petani dalam teknik inokulasi simpori tersebut, mengingat pengalaman sebelumnya yang buruk. Kerjasama inokulasi gaharu dengan pelaku usaha gaharumengalami kegagalan. Herman dengan nada kecewa menuturkan, “Paku yang sudah ditancap di sepanjang batang pohon gaharu kini tidak berbekas, padahal sudah lebih dari dua tahun”. Hal berbeda yang ditunjukan beberapa masyarakat di Desa Genggelang, mereka kurang menyambut baik atas informasi yang disampaikan. Karena mereka masih trauma dengan kerjasama inokulasi yang dilakukan oleh suatu perusahaan. Tentunya kerjasama ini tidak menguntungkan masyarakat dan justru mengecewakannya. Pasalnya, perjanjian awal yang menggiurkan tidak sesuai dengan hasil yang diperoleh. Sehingga beberapa anggota kelompok tani di Genggelang lebih memilih untuk menjual utuh pohon gaharunya dengan harga rendah, meskipun tanpa diinokulasi terlebih dahulu. Lebih disayangkan lagi sebagian masyarakat Genggelang memilih menebang habis tanaman gaharu dan menggantinya dengan tanaman lain yang dianggap lebih produktif. Ini memberikan gambaran bahwa petani gaharudi Genggelang belummengetahui sepenuhnya tentang teknik produksi gaharu.

 

Di hadapan beberapa petani Resti menegaskan sosialisasi ini dilakukan agar petani yang tertarik dengan budidaya produksi gaharu memiliki pengetahuan yang cukup, sehinga memperoleh hasil yang optimal. “Para anggota kelompok tani yang menerima informasi melalui sosialisasi ini, diharapkan mampu mengaplikasikan teknik inokulasi simpori pada pohonnya sehingga dapat meningkatkan harga jual”, harap Resti. Sosialisasi ini merupakan suatu upaya yang dilakukan untuk menjawab permasalahan, kebingungan, dan ketidaktahuan petani gaharu di lapangan dalam memproduksi gaharu budidaya. Sehingga dapat meningkatkan optimisme petani dalam melalukan usaha pembudidayaan gaharu.Selain teknologi inokulasi pengembangan gaharu ke depan diperlukan dukungan pemerintah daerah dan swasta berupa kebijakan program, pengembangan industri gaharu dan akses pasar gaharu. ***[sur]

 

;

Galery Foto & Video

Video


Foto
Responsive image Responsive image




Link Terkait

Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image