Responsive image Responsive image

Responsive image Responsive image
Responsive image


Berita Detail

dilihat 35x

Dukung Industrialisasi HHBK, 2 Peneliti BPPTHHBK Jadi Narasumber Diklat Penyuluh Se-Provinsi NTB


Responsive image


MATARAM-BPPTHHBK. Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah gencar-gencarnya mengembangkan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) unggulan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar hutan. Upaya tersebut dijalankan dengan melakukan program penanaman HHBK unggulan seperti bambu, dan pembudidayaan produk perlebahan. Untuk mendukung suksesnya program tersebut, Badan Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) Pemerintah Provinsi NTB mengadakan pelatihan dengan tema “Industrialisasi Hasil Hutan Bukan Kayu”. Pelatihan ini diselenggarakan untuk memberikan pembekalan kepada penyuluh dan petugas kehutanan di lapangan terhadap upaya industrialisasi HHBK. Pelatihan ini diselenggarakan selama 5 (lima) hari dari tanggal 04-08 November 2019. 3 hari kegiatan dilakukan di Aula Tambora, BP2SDM Provinsi NTB dan 2 hari kunjungan lapangan. Pada pelatihan ini dua peneliti BPPTHHBK didaulat menjadi narasumber dengan masing-masing mengampu mata diklat analisis usaha perlebahan dan analisis usaha bambu. Materi pertama dibawakan oleh Septiantina Dyah Riendriasari, S.Hut., M.Si. sementara materi kedua diampu oleh Rubangi Al Hasan, S.Sos,. MPA.

Dalam paparannya, Septiantina Dyah Riendriasari yang kerap disapa dengan Ririn ini mengulas tentang seluk-beluk usaha beberapa jenis lebah seperti Apis cerana, Apis dorsata, Apis mellifera, dan kelulut atau dalam bahasa lokal di Lombok disebut dengan nyanteng. Usaha perlebahan yang sudah banyak dilakukan masyarakat selama ini adalah pemanenan madu. Berbekal thesis S2-nya yang banyak mengupas tentang persebaran dan pakan kelulut di Lombok, Ia pun mengupas panjang lebar terkait dengan prospek budidaya kelulut. Ia menegaskan bahwa usaha budidaya kelulut sangat menjanjikan. Di samping madu, kelulut juga menghasilkan propolis dan bee bread yang harganya juga sangat bagus di pasaran. “dalam enam bulan, dari satu stup petani akan mendapatkan keuntungan bersih sebesar Rp55.250.” tegas Ririn.Dengan memiliki 100 setup, maka dalam enam bulan petani akan mendapatkan tambahan penghasilan senilai Rp5 juta lebih, ini tentu sangat menggiurkan. Dalam paparannya terkait analisis usaha bambu, Rubangi Al Hasan memaparkan tentang prospek usaha bambu yang menjanjikkan. Ia menjelaskan bahwa industri berbasis bambu memiliki peluang pasar yang sangat besar. Hasan, sapaan akrab peneliti ini menjelaskan bahwa saat ini ekspor komoditas bambu dunia dikuasai oleh negara China yang menguasai 65 persen ekspor bambu dunia. Adapun negara tujuan ekspor utama adalah ke Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang.  Ketiga negara dan kawasan tersebut memiliki minat yang tinggi dalam pemanfaatan bambu, khususnya untuk flooring dan furniture. Di dunia, Indonesia baru menguasai 8 persen atau nomor tiga di dunia dalam peringkat ekspor komoditas berbasis bambu. Dengan menampilkan studi kasus pengusahaan bambu petung (Dendrocalamus asper), Hasan meyakinkan bahwa usaha budidaya bambu jenis ini sangat menguntungkan. “budidaya bambu petung, dalam enam tahun sudah balik modal.” Tegas Hasan. Di samping bambu petung, bambu tabah juga memiliki prospek yang menjanjikan. Dengan mengambil studi kasus pembudidayaan petani di KHDTK Rarung, Hasan menjelaskan bahwa petani sudah dapat memanen bambu tabah mulai memasuki usia 3 tahun. Pemanenan rebung pada setiap rumpun bisa menghasilkan 30 batang dalam satu musim panen. Dan bambu ini bisa bertahan mencapai 100 tahun, bahkan lebih jika dikelola dan dirawat dengan baik. (HSN & SD).

;

Galery Foto & Video

Video


Foto
Responsive image Responsive image




Link Terkait

Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image