Responsive image Responsive image

Responsive image Responsive image
Responsive image


Berita Detail

dilihat 31x

BERBAGI PENGALAMAN BUDIDAYA KELULUT HINGGA KE SUMBAWA


Responsive image


Badas, Sumbawa-BPPTHHBK. Usaha budidaya kelulut masih menjadi tren dan favorit di kalangan masyarakat Indonesia. Hal ini juga menular pada masyarakat di Nusa Tenggara Barat, baik di Pulau Lombok maupun Pulau Sumbawa. Namun, virus yang ditularkan ini mempunyai efek yang baik dan menguntungkan baik secara ekologi, biologi maupun ekonomi. Untuk mendukung usaha budidaya kelulut di Sumbawa, maka diadakan kegiatan Pelatihan Budidaya Lebah Madu Trigona sp. yang difasilitasi oleh ICRAF melalui kegiatan Kanoppi2. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kerjasama antara ICRAF, WWF, ACIAR, KLHK, Dinas LHK Provinsi NTB dan KPH. Pelatihan ini dilaksanakan selama sehari yaitu tanggal 27 November 2019 di Kesekretariatan PKSM di Badas dan diikuti sekitar 30 orang peserta pembudidaya lebah baik pemula maupun yang sudah lama berkecimpung di dunia perlebahan. Acara pelatihan dibuka oleh Kepala Seksi Perencanaan dan Pemanfaatan Hutan, Habibi, S.Hut dan dilanjutkan dengan pemaparan oleh Septiantina DR selaku narasumber dari BPPTHHBK dan praktek yang dipandu oleh Edi Kurniawan.

Adapun materi yang disampaikan meliputi pengenalan lebah madu secara umum, latar belakang lebah dapat dibudidaya, jenis lebah yang mampu dibudidayakan, dan aspek yang perlu diperhatikan dalam usaha budidaya terutama kelulut. Kelulut ini biasa disebut“rentelan”(bahasa Sumbawa) atau Trigona. Namun, seiring perkembangan ilmu pengetahuan penyebutan nama Trigona sudah tidak relevan lagi untuk digunakan. Oleh karena itu, lambat laun perlu membiasakan lidah untuk menyebut si mungil ini dengan sebutan “kelulut” sesuai dengan KBBI. Harga produk perlebahan kelulut yang menggiurkan mampu memengaruhi sebagian kalangan untuk berlomba-lomba mencoba peruntungan dalam usaha budidaya ini. Pemaparan materi disampaikan hampir 2 jam dengan diskusi dan tanya jawab yang hidup dan responsif. Selanjutnya dilakukan praktek langsung mengenai pemindahan koloni alami ke dalam stup, pemanenan lestari dan menjaga kehiginiesan produk perlebahan yang sudah dipanen. Selanjutnya dilakukan kunjungan ke lokasi yang sudah lama melakukan kegiatan budidaya Kelulut yaitu di rumah Bapak Daus dan Bapak Zul. Di lokasi tersebut diterangkan bahwa pembudidaya juga melakukan ujicoba bentuk stup dan ukuran stup yang sesuai dan memudahkan usaha pemanenan produknya.(SD)

;

Galery Foto & Video

Video


Foto
Responsive image Responsive image




Link Terkait

Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image