Responsive image Responsive image

Responsive image Responsive image
Responsive image


Berita Detail

dilihat 280x

BPPTHHBK Mengadakan Workshop Penulisan Populer Untuk Meningkatkan Kapasitas Penulisan Populer


Responsive image


Mataram, Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu (BPPTHHBK) mengadakan workshop penulisan ilmiah populer di Hotel Lombok Raya, Mataram pada hari Selasa, 10 Desember 2019. Acara itu dihadiri oleh seluruh pegawai BPPTHHBK yang terdiri dari peneliti, teknisi dan staf serta undangan dari Instansi lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) juga dari Dinas Kehutanan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Workshop tersebut dibuka oleh Kepala BPPTHHBK, Bintarto Wahyu Wardani, S.Hut., M.Sc, dalam sambutannya Beliau menjelaskan arahan Kepala Badan Litbang dan Inovasi yaitu berita harus menjelaskan program Kementerian LHK dan tidak boleh menyinggung SARA. 

Narasumber workshop penulisan ilmiah populer ini yaitu, Dr. Sardi Duryatmo dari Redaktur Majalah Trubus, Beliau menjelaskan asal usul kata berita, yaitu berasal dari Bahasa Sansekerta “vrit” yang maknanya “ada atau terjadi”, sehingga vritta berarti kejadian yang telah terjadi. “Bila kita melihat segala sesuatu dengan mata kepala sendiri itu disebut kejadian (event), sedangkan berita adalah segala sesuatu yang merupakan realitas tangan kedua (second hand reality)” paparnya. Dr. Sardi juga merinci kiat penulisan ilmiah populer yaitu :

1.  Pahami PEG (News Hook, Story Hook) : penulis harus mengetahui peg/pelatuk, alasan sebuah objek ditulis.

2.   Memahami : penulis harus memahami apa yang ditulisnya

3.  Akurasi : prinsip kecermatan, ketepatan, ketepatan antara fakta dengan berita atau hasil penelitian yang ditulis

4.   Menyucikan fakta : dalam penulisan ilmiah populer harus tetap sesuai dengan fakta

5.   Makin sederhana kian baik : tulisan yang digunakan diusahakan sederhana agar mudah dipahami

6.  Berantas kata-kata berkabut : dengan menghilangkan kata-kata berkabut, tulisan menjadi jernih sehingga pembaca lebih mudah memahaminya

7.  Kata kerja bukan kata sifat : Kata kerja lebih dipilih karena bersifat menggambarkan tindakan (to show) sehingga lebih mudah dipahami pembaca. Kata sifat, hanya memberitahu (to tell).

8. Hemat kata : Halaman media massa cetak amat terbatas sehingga kita sebaiknya menulis yang perlu-perlu saja. Lagi pula pembaca juga tak mempunyai banyak waktu berlebihan untuk membaca. Dua alasan itulah yang menyebabkan kita harus menerapkan word economy alias ekonomi kata.

9.  Cegah kata-kata penat : kata-kata penat adalah kata-kata yang sering terulang dalam  sebuah tulisan sehingga membuat pembaca penat dan bosan

10. Sisi kemanusiaan : Menyentuh sisi kemanusiaan atau human interest mampu menambah greget penulisan sehingga menarik perhatian pembaca. Caranya dengan memasukkan unsur ceritera, anekdot, dan humor pada artikel

11. Memberi roh : penulis ilmiah populer dituntut kemampuan ekstra membuat deskripsi dan narasi sehingga tulisannya mempunyai roh

12. Gunakan kalimat aktif : Berita menjadi hidup dan bergaya sehingga lebih menarik jika menggunakan kalimat aktif, bukan kalimat pasif

13. Bangkitkan emosional

14. Tulisan berdaya getar

15. Pakai kata-kata yang lazim

16. Swasunting : Setelah itu jadilah orang lain:  baca ulang, hasil tulisan, renungkan,  ada yang tak dipahami? Tulisan sudah runut, ide demi ide pas? Adakah ide  yang satu menolak ide yang lain? Sebagai orang lain, apakah Bapak/Ibu tertarik membaca tulisan itu?

17. Kata bersaing, pilih yang baku : Jika menghadapi dua tau lebih kata bersaing, tetap pilih yang baku

Acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, banyak pertanyaan dari para peserta yang terlihat sangat antusias dalam workshop tersebut, kemudian acara ditutup dan diakhiri dengan foto bersama. (AN) 

;

Galery Foto & Video

Video


Foto
Responsive image Responsive image




Link Terkait

Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image