Responsive image Responsive image

Responsive image Responsive image
Responsive image


Berita Detail

dilihat 83x

Tahapan Krusial Stek Pucuk Tanaman Penghasil Gaharu Gyrinops versteegii


Responsive image


Mengapa perlu menggunakan perbanyakan stek pucuk pada tanaman penghasil gaharu? Guna menjawab pertanyaan tersebut dapat disandarkan pada dua pertimbangan utama yaitu terkait karakteristik bijinya dan proses pembentukan gaharunya. Selama ini untuk melakukan perbanyakan, masyarakat banyak menggunakan biji atau mengambil sejumlah cabutan anakan alam yang tumbuh dibawah tegakan tanamannya. Perbanyakan melalui biji masih menjadi salah satu teknik termudah untuk memperbanyak tanaman penghasil gaharu jenis Gyrinops versteegii. Tanaman Gyrinops versteegii biasanya menghasilkan buah dalam jumlah besar pada awal tahun antara bulan januari hingga maret. Salah satu kendala dalam perbanyakan biji tanaman Gyrinops versteegii adalah sifat bijinya yang rekalsitran. Biji- biji dengan sifat tersebut tidak dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama atau biasanya akan mengalami penurunan kemampuan berkecambahnya. Oleh karena itu jalan terbaik adalah ketika telah didapatkan biji harus segera dikecambahkan dan disimpan dalam bentuk semai, namun tentu ini akan memerlukan biaya tambahan untuk pemeliharaannya. 

 

 

Satu masalah besar yang akan dihadapi pada perbanyakan biji dengan sifat rekalsitran adalah ketika pohon induk mengalami permasalahan pada satu musim panennya maka kita tidak akan memilki lagi stok biji untuk digunakan sewaktu dibutuhkan. Alternatif yang dapat digunakan adalah menggunakan perbanyakan vegetatif dan stek pucuk menjadi salah satu teknik yang dapat direkomendasikan. Materi perbanyakan stek pucuk dapat diperoleh sewaktu-sewaktu jika diperlukan sehingga tidak tergantung musim seperti pada perbanyakan biji. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa perbanyakan stek pucuk diperlukan pada perbanyakan tanaman penghasil gaharu yang mempunyai karakteristik biji rekalsitran. Menurut Santoso (2014) terdapat tiga faktor yang mempengaruhi pembentukan gaharu yaitu pohon gaharu, jamur patogen dan lingkungan. Interaksi ketiga faktor tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat menentukan kualitas dan kuantitas gaharu yang dibentuk. Salah satu masalah dalam pembudidayaan gaharu saat ini adalah hasil yang diperoleh masih belum konsisten baik secara kuantitas maupun kualitasnya. Meskipun menggunakan mikroba yang sama dan ditanam pada lokasi yang sama serta tanaman yang digunakan berasal dari indukan yang sama sering masih memunculkan hasil yang berbeda. Hal ini dapat diduga dikarenakan penggunaaan biji sebagai sumber perbanyakan dapat menghasilkan tingkat kemampuan tanaman menghasilkan gaharu yang berbeda-beda. Adanya perkawinan yang terbuka dapat memberikan peluang terjadinya perubahan kemampuan pembentukan gaharu yang diwariskan kepada keturunannya, meskipun berasal dari satu pohon induk. Guna mengatasi permasalah tersebut, teknik kloning dapat menjadi salah satu alternatif pemecahan. Kemampuan mengkopi genetik induknya menjadi keuntungan untuk menghasilkan keturunan yang seragam. Stek pucuk yang merupakan salah satu teknik kloning tanaman dapat direkomendasikan dikarenakan sifatnya yang sederhana dan murah serta dapat diaplikasikan dalam skala yang besar. 

 

Perbanyakan stek pucuk pada tanaman penghasil gaharu dapat dikatakan “gampang gampang susah” . Terdapat beberapa tahapan kunci yang perlu mendapat perhatian lebih. Kegagalan dalam tahapan tersebut dapat menjadi masalah yang serius dalam pelaksanaannya. Secara sederhana tahapan perbanyakan stek pucuk dapat digambarkan dalam diagram sebagai berikut.


Gambar 2. Bagan langkah pembuatan stek pucuk tanaman Gyrinops versteegii

Berdasarkan diagram perbanyakan stek tersebut terdapat 4 tahapan kunci yang menentukan keberhasilan perbanyakannya, tahapan tersebut adalah sebagai berikut

1. Penggunaan media

Media merupakan salah satu tempat dimana stek mendapatkan lingkungan yang optimal untuk pembentukan akar dan sebagai tempat tumbuh berkembangnya stek. Media tanam sederhana berupa tanah topsoil masih dapat digunakan dalam perbanyakan stek tanaman Gyrinops versteegii.  Hal ini tentu memberikan keuntungan yaitu kemudahan untuk mendapatkannya dan lebih murah biaya yang diperlukan. Salah satu kunci yang perlu menjadi perhatian adalah perlu dilakukan sterilisasi media misalnya dengan penyiraman atau penyemprotan fungisida untuk mencegah serangan jamur pembusuk. Keuntungan lain penggunaan tanah adalah sudah terkandung unsur hara tanaman sehingga ketika akar mulai muncul dari stek dapat langsung mendapatkan asupan makanan yang berguna bagi pertumbuhannya.


Gambar 3. Stek pucuk Gyrinops versteegii dengan media tanah

2. Pemilihan pucuk sebagai bahan stek

Pemilihan pucuk yang tepat menjadi faktor kunci kedua bagi keberhasilan pembentukan akar steknya. Pemilihan pucuk dilakukan pada pucuk yang masih muda namun juga sudah agak berkayu sehingga sudah memiliki cadangan makanan yang baik. Selain itu pucuk yang dipilih harus memiliki arah pertumbuhan keatas atau sering disebut pucuk orthotrop. Pucuk yang masih juvenil akan memiliki potensi yang lebih besar menghasilkan akar adventif dibandingkan pucuk yang sudah tua (Salisbury dan Ross 1995). Penelitian Setyayudi dkk (2015) menunjukkan perbanyakan stek Gyrinops verteegii menggunkan pucuk yang tua memiliki keberhasilan yang sangat rendah, bahkan beberapa pucuk lebih menghasilkan bunga daripada membentuk akar.

 



          Gambar 4. Pucuk yang masih juvenil

           Gambar 5. Stek pada pucuk memunculkan bunga

 3. Lingkungan yang optimal

Kondisi lingkungan dimana stek diletakkan menjadi cukup penting menentukan keberhasilan perbanyakan steknya. Untuk membentuk akar stek memerlukan kondisi lingkungan yang optimal baik itu suhu maupun kelembabannya. Suhu yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan stek mengalami kekeringan sedangkan lingkungan yang terlalu lembab dapat memicu serangan jamur pembusuk. Beberapa teknik yang dapat digunakan untuk menjaga kondisi lingkungan tetap optimal untuk perbanyakan stek pucuk adalah penggunaan paranet untuk mengurangi sinar matahari langsung agar suhu tetap terjaga, penggunaan sungkup plastik untuk menjaga kelembaban disekitar steknya, sungkup dapat menggunakan plastik transparan atau menggunakan box propagasi, penggunaan sprayer kabut untuk menjaga kelembaban dilokasi pengakaran tetap optimal. Menurut (Yasman & Smith, 1987) suhu sekitar 25oC – 28oC dan kelembaban di atas 90%, dapat menjaga stimulir pembelahan sel akar.



Gambar 6. Penyemprotan kabut di persemaian

4. Penggunaan hormon pertumbuhan

Secara alami hormon pertumbuhan dihasilkan oleh tanaman namun untuk mempercepat dan memacu pembentukan perakaran stek dapat digunakan hormon pertumbuhan sintetis. Penggunaan hormon pertumbuhan harus pada dosis atau konsentrasi yang sesuai dikarenakan ketika digunakan pada dosis berlebih akan menghambat pertumbuhannya. IBA atau indole buteric acid merupakan salah satu hormon yang banyak digunakan untuk memacu pembentukan akar pada stek tanaman. Penggunaan IBA pada konsentrasi 200ppm mampu menghasilkan persen perakaran stek Gyrinops versteegii sekitar 77,08%. Pengaplikasiannya dapat dilakukan dengan melakukan perendaman pangkal stek selama 60 menit.

Proses pengakaran stek pucuk tanaman Gyrinops versteegii dilakukan selama 3 bulan. Setelah stek berakar maka perlu dilakukan pemeliharaan dipersemaian sampai semai siap untuk ditanam dilapangan. Pemeliharaan dapat dilakukan selama 3 hingga 6 bulan dengan melalukan penyiraman rutin, pemupukan dan penjagaan dari serangan hama penyakit ataupun gulma yang mungkin menyerang. Informasi lebih lanjut tentang perbanyakan stek pucuk tanaman Gyrinops versteegii dapat dilihat pada laman berikut http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/JPKF/article/view/4237

 

;

Galery Foto & Video

Video


Foto
Responsive image Responsive image




Link Terkait

Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image