Responsive image Responsive image

Responsive image Responsive image
Responsive image


Berita Detail

dilihat 119x

PERLINDUNGAN MATA AIR MENYONGSONG TATANAN NORMAL BARU (NEW NORMAL): SEBUAH TINJAUAN PRAKTIS


Responsive image


Pandemik virus Covid-19 dan adanya pembatasan aktivitas berskala besar yang sudah berlangsung beberapa bulan terakhir ini, tentunya sangat berpengaruh terhadap berbagai sendi kehidupan.  Sumberdaya alam, termasuk sumberdaya air, merupakan salah satu sumberdaya yang juga ikut terdampak.  Berbagai dampak negatif dan positif dari pandemik Covid-19 dan pembatasan aktivitas memunculkan pencanangan suatu tatanan normal baru (new normal).  Tatanan normal baru ini pada prinsipnya memulai kehidupan normal dengan standar protokol kesehatan yang lebih ketat, dengan harapan roda kehidupan berjalan normal kembali sekaligus penyebaran virus dapat dikendalikan.  Pro dan kontra penerapan tatanan normal baru masih bergulir dengan berbagai argumennya. 

Tulisan ini tidak akan membahas pro dan kontra tatanan normal baru, tetapi mencoba melihat tatanan normal baru dari sisi positif.  Tatanan normal baru hendaknya dijadikan sebagai sarana evaluasi perilaku manusia dalam hubungannya dengan pengelolaan sumberdaya.  Tatanan normal baru juga akan memunculkan suatu standar baru khususnya secara kualitas yang lebih baik untuk sumberdaya, dan salah satunya adalah pemenuhan air baku dengan kualitas yang lebih untuk berbagai kebutuhan.  Di sisi lain mataair sebagai sumber air baku potensial yang secara umum mempunyai kualitas yang lebih baik tentunya akan menjadi perhatian utama.  Oleh sebab itu upaya perlindungan sumber-sumber air, khususnya mata air, sangat penting untuk menjamin kelestarian air.  Lebih lanjut tulisan ini mencoba memberikan gambaran secara lebih praktis tentang pemahaman mata air, bagaimana strategi perlindungan mataair dan hubungannya dengan tatanan normal baru yang akan kita hadapi.

Mengapa mataair harus dilindungi ?

Mata air merupakan salah satu sumber air potensial yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan.  Nilai penting mata air bukan hanya dari kualitasnya saja, yang pada umumnya mempunyai kualitas yang sangat baik, namun juga penting dari aspek kuantitas.  Sebagai gambaran, dari seluruh air yang ada di bumi ini, air tawar yang bisa dimanfaatkan hanya 3% saja.  Sekitar 30% dari air tawar ini yang dapat dimanfaatkan langsung dalam bentuk air permukaan hanya 0,3%.  Di sisi lain airtanah sebagai sumber air mata air mempunyai potensi paling besar yaitu 30% dari air tawar yang ada di bumi ini.

Nilai penting mataair lainnya adalah dari segi ekonomis, sosial, budaya, dan ekologis. Mataair yang berada di pegunungan pada umumnya mempunyai kualitas yang sangat baik, sehingga hal ini menjadi daya tarik para pelaku usaha untuk memanfaatkannya.  Sebagai konsekuensinya hal ini tentunya akan mendatangkan keuntungan secara ekonomi.  Berbagai produk air minum dalam kemasan merupakan salah satu bentuk pemanfaatan air mata air secara ekonomi.  Air sebagai salah satu kebutuhan utama kehidupan, juga menyebabkan lokasi dengan potensi mata air sangat besar menjadi daya tarik terbentuknya peradaban sejak dahulu kala.  Pusat-pusat peradaban dunia dan kota-kota besar pada umumnya berlokasi dekat dengan sumber air, khususnya mataair.  Salah satu contohnya  adalah pusat kota kerajaan romawi yang sangat bergantung pada 23 mata air di dekatnya. Hal ini menunjukkan bahwa mataair mampu menggerakan kehidupan sosial dan perkembangan budaya. Pentingnya mata air secara ekologis ditunjukkan oleh peran mata air yang akan mempengaruhi kelestarian ekosistem akuatik maupun non-akuatik yang berada di bawahnya.  Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa mata air merupakan sistem penyangga ekosistem di bawahnya.

Selain adanya nilai penting mata air sebagai dasar perlunya perlindungan, berbagai ancaman juga menjadi alasan lainnya.  Peningkatan kebutuhan air baku sebagai akibat pesatnya pembangunan dan pertambahan penduduk merupakan menjadi salah satunya.  Di sisi lain dengan adanya tatanan normal baru nantinya memberikan tuntutan sumber air baku, khususnya mata air, yang kualitasnya lebih baik, kuantitasnya cukup dan tersedia sepanjang waktu. 

Bagaimana konsep dasar perlindungan mataair?


Perlindungan mata air secara sederhana dapat diartikan berbagai upaya yang dilakukan untuk memulihkan, menjaga dan melindungi mata air dan hasil airnya baik kualitas, kuantitas maupun kontinuitas.  Konsep perlindungan mata air mempunyai spektrum keruangan yang lebih luas, tidak hanya daerah sekitar titik mata air saja, tetapi juga meliputi seluruh Daerah Tangkapan Air (DTA) mataair (springshed). Perlindungan juga dapat dipandang dari sudut pandang infrastruktur dan kawasan.  Perlindungan mata air berupa infrastruktur pada intinya adalah perlindungan melalui struktur bangunan, misalnya bangunan penampung air.  Sudut pandang kawasan merujuk perlindungan mata air secara spasial baik sekitar titik mata air maupun DTA mata air. 

Dari sudut pandang apapun, zonasi secara spasial untuk upaya perlindungan mata air perlu untuk didefinisikan.  Secara sederhana pembagian zona perlindungan setidaknya terdiri atas: titik dimana mata air berada, daerah sekitar mata air, dan Daerah Tangkapan Air (DTA) mata air (springshed).  Setiap zona perlindungan memiliki karakteristik dan tujuan perlindungan yang spesifik, sehingga hal ini menjadi dasar penentuan strategi perlindungan yang dapat dilaksanakan.

 Bagaimana memahami mata air secara praktis?


Pemahaman mata air merupakan kunci dalam perlindungan mata air itu sendiri.  Informasi penting yang berhubungan dengan pemahaman mata air setidaknya meliputi proses kejadian mata air, karakteristik aliran, sifat fisika dan kimia air, dan prediksi daerah tangkapan airnya (DTA).  Pengetauan tentang karakteristik mata air menjadi sangat penting sebagai dasar strategi perlindungan, termasuk didalamnya untuk menentukan prediksi DTA mata air. 

Proses kejadian mata air tidak terlepas dari beberapa kondisi yang mempengaruhi. Setidaknya terdapat tiga kondisi yang mempengaruhi kemunculan mata air, yaitu kondisi morfologi, kondisi geologi dan kondisi hidrogeologi.  Proses kejadian mata air pada dasarnya banyak digunakan karakterisasi mata air, diantaranya berdasarkan sifat pengaliran air tanah, debit air, suhu air, tipe akuifer, tenaga penyebab pengaliran air tanah dan tipe material akuifer.  Pemahaman hasil air baik kualitas maupun kuantitas adalah salah satu sarana untuk mengetahui proses yang terjadi di DTA mata air, karena mata air dapat menggambarkan integrasi proses geologi dan hidrologi pada suatu wilayah pada kurun waktu tertentu.  Informasi karakteristik air mata air dapat digunakan untuk memprediksi besarnya imbuhan air tanah, memprediksi asal air mata air, memprediksi karakteristik material permukaan dan menentukan prediksi luas DTA. Tingkat kedalaman pemahaman mata air akan sangat tergantung pada kedalaman data yang dimiliki.  Semakin lengkap data yang dimiliki baik secara spasial maupun temporal maka pemahaman akan semakin komprehensif dan akurat.

Terlepas dari berbagai keterbatasan data dan informasi yang berkaitan dengan mata air, pendekatan praktis sangat diperlukan.  Pemahaman praktis ini didasarkan pada proses kemunculan mata air.  Pertama, adalah mata air yang keluar secara horizontal.  Mata air ini di Jawa dikenal sebagai istilah umbul lanang (mataair laki-laki).  Mata air ini memiliki karakteristik mengalir ke permukaan secara horizontal.  Pada umumnya mataair ini mempunyai akuifer yang dangkal, berasal dari air tanah pada akuifer tidak tertekan dan memiliki sistem aliran bersifat lokal.  Hasil air secara kuantitatif sangat dipengaruhi oleh perubahan musim, dengan kata lain akan berfluktuasi sesuai musim atau input air hujan.  Secara kualitas termasuk sedang, dan aktivitas manusia di atasnya akan sangat berpengaruh.  Penentuan DTA mata air ini dapat memanfaatkan pendekatan batas-batas morfologi. 


 

Gambar 1. Mataair yang mengalir secara horizontal (umbul lanang)

Kedua, adalah mataair yang keluar ke permukaan secara vertikal ke arah atas, atau dikenal juga sebagai umbul wadon (mataair wanita). Mataair ini mempunyai ciri berasal dari akuifer tertekan yang dalam, mempunyai sistem aliran regional, dan kondisi geologi sangat berperan.  Perubahan musim tidak mempengaruhi debit mataair secara signifikan, begitu pula halnya aktivitas manusia.  Kualitas air yang dihasilkan pada umumnya mempunyai kulaitas yang baik.  Penentuan DTA mata air ini memerlukan pendekatan yang cenderung lebih rumit dan data pendukung yang lebih banyak, diantaranya dengan menggunakan pendekatan tracer test dan menggunakan batas-batas geologi. 


Gambar 2. Mataair yang mengalir vertikal ke atas (umbul wadon)

Untuk lingkungan gunungapi, pola penyebaran mataair di lereng gunungapi juga dapat menjadi petunjuk yang penting.  Pola sejajar (sabuk mataair/spring belt) mengindikasikan mataair berasal dari akuifer berbeda, kualitas/kuantitas variatif, dan pada umumnya dikontrol oleh morfologi.  Pola radial (radial spring) terjadi karena adanya pemotongan topografi pada batuan/akuifer yang sama, lebih dikontrol oleh faktor geologi, asal air tanah dan kualitas relatif sama.

 

 

Gambar 3. Pola susunan mataair di lingkungan gunungapi: titik merah pola sabuk mata air, dan titik biru pola radial.


Bagaimana implementasi praktis perlindungan mataair?


Pada praktiknya perlindungan mataair dilakukan pada zona perlindungan secara spasial yang telah ditetapkan.  Setidaknya terdapat tiga zona perlindungan mata air yang harus didefinisikan.  Zona perlindungan yang dimaksud adalah: zona I (zona perlindungan titik mata air), zona II (zona perlindungan), dan zona III (zona perlindungan DTA mata air). 


 

Gambar 4.  Konsep zonasi perlindungan mataair

Zona I merupakan zona perlindungan yang bertujuan untuk melindungi air yang keluar di titik mataair dari semua zat pencemar.  Penentuan zona I pada umumnya adalah radius 10-20 m dari titik mata air.  Upaya perlindungan yang banyak dilakukan adalah pembuatan bak penampung air sebelum didistribusikan.  Hal lain yang penting dirumuskan adalah mekanisme pemanfaatan air, seperti mekanisme perizinan, penetapan aturan-aturan, dan bila diperlukan dilengkapi standar pengelolaan yang ramah lingkungan.


 

Gambar 5.  Contoh perlindungan pada titik mata air dengan bak penampung


Zona II ditentukan dengan tujuan untuk melindungi mata air dari zat pencemar berupa bakteri patoghen yang dapat menyebabkan degradasi kualitas air.  Penentuan batas zona II diperhitungkan berdasarkan jarak tempuh bakteri colli selama kurang lebih 60 hari ke titik mata air.  Pada praktik di lapangan, batas zona ini ditentukan berdasarkan jarak dari mata air ke arah hulu (upstream) sejauh 200-300 m.  Pada zona ini berbagai kegiatan yang berpotensi untuk mencemari air tidak diperkenankan, termasuk kegiatan budidaya yang menggunakan pestisida atau pupuk berlebihan dan kegiatan antropogenik lainnya.

Zona III merupakan DTA mata air dimana air hujan yang jatuh sebagian akan terinfiltrasi dan memasuki sistem air tanah dan pada akhirnya akan muncul di titik mata air.  Zona ini pada dasarnya bertujuan untuk melindungi mataair dari zat pencemar yang tidak dapat mengalami degradasi dalam waktu singkat.  Secara praktis di lapangan, zona III ditentukan berdasarkan luas tangkapan air mataair.  Penentuan batas DTA mataair ini akan sangat tergantung pada pemahaman tentang mataair yang telah dikemukakan sebelumnya.  Mata air yang mempunyai sistem aliran lokal dapat menggunakan pendekatan batas morfologi.  Mata air dengan sistem aliran regional dapat menggunakan pendekatan geologi atau tracer test.  Berbagai pendekatan secara hidrologis untuk menduga luas DTA mataair juga banyak dikembangkan, diantaranya pendekatan Todd (1980).  Upaya perlindungan pada zona ini sangat luas dan akan ditentukan oleh karakteristik morfologi dan penggunaan/penutupan lahan.  Namun demikian pada zona ini hendaknya diupayakan adanya penyediaan ruang yang cukup untuk peresapan air hujan sebagai imbuhan air tanah.  Aktivitas yang dapat mengurangi, mengubah atau menghilangkan fungsi lindung suatu kawasan perlu dikendalikan, bahkan dilakukan pelarangan.  Aktivitas budidaya sedapat mungkin yang ramah lingkungan sehingga tidak menimbulkan dampak negatif, namun masih bisa memberikan keuntungan secara sosial ekonomis. 

 

Gambar 6.  Contoh peta hasil zonasi perlindungan mataair.

 

Semangat perlindungan mataair di era tatanan normal baru.


Era tatanan normal baru sebaiknya dipandang sebagai suatu komitmen cara hidup yang lebih berorientasi pada kesehatan. Komitmen ini ditunjukkan dengan upaya rekontruksi nilai, norma, sikap dan pola perilaku pada semua aspek kehidupan.  Perlindungan mataair juga tidak akan terlepas dari komitmen baru tersebut, sehingga upaya-upaya perlindungan akan lebih baik. Perlindungan mataair di era tatanan normal baru bisa saja menggunakan tools yang sama seperti sebelumnya, namun strategi yang dirumuskan akan berbeda dan  lebih baik.

Roh konservasi juga harus menjadi landasan dalam semangat perlindungan mataair di era tatanan normal baru.  Konservasi secara sederhana memiliki pemahaman memberikan kehidupan pada generasi saat ini dan peluang yang sama untuk generasi selanjutnya.  Oleh sebab itu kata kunci yang penting dalam upaya perlindungan mataair antara lain: pemanfaatan sumberdaya secara bijaksana, pemulihan zona perlindungan, dan keterpaduan dalam pemenuhan kebutuhan dan implementasi program. 

Penerapan kata kunci dan roh konservasi dalam perlindungan mataair dengan semangat yang baru dapat diinterpretasikan secara luas.  Namun demikian terdapat beberapa hal yang perlu digarisbawahi dalam implementasinya.  Pertama, integrasi, koordinasi, sinkronisasi dan sinergi antar berbagai pihak dan program perlu ditingkatkan.  Berbagai sektor akan terlibat dalam upaya perlindungan mataair yang membawa misi kepentingan masing-masing.  Berkolaborasi tanpa mendiskreditkan sektor tertentu sudah tentu menjadi suatu keniscayaan.  Pembagian peran sesuai tugas pokonya adalah jalan tengah yang terbaik, dengan tetap kelestarian mataair baik kualitas maupun kuantitas menjadi keluaran yang utama.

Kedua, penegakan hukum secara adil dan proporsional.  Perlindungan mataair bukan hanya untuk pemenuhan kebutuhan manusia akan air, tetapi lebih luas lagi untuk menciptakan keseimbangan lingkungan yang lestari. Pilihan-pilihan upaya perlindungan harus juga memperhatikan perundang-undangan terkait.  Potensi aktivitas yang merusak keseimbangan lingkungan perlu dihindarkan. 

Ketiga, penguatan gerakan perlindungan mataair dengan semangat yang baru.  Para pemangku kepentingan (stakeholder) pemerintah sebagai pemegang otoritas dalam perlindungan mataair memiliki kewajiban untuk kelestarian mataair.  Namun demikian terkadang memiliki keterbatasan dalam melaksanakan kewajibannya.  Oleh sebab itu perlu penguatan dan pelibatan para pemangku kepentingan non-pemerintah dan masyarakat, khususnya yang mendapatkan manfaat dari kelestarian mataair.  Masyarakat dan para pemangku kepentingan non-pemerintah juga dapat difungsikan menjadi agen pelembagaan nilai-nlai semangat perlindungan mataair dan sebagai pengontrol implementasi upaya perlindungan. Hal lain yang tidak kalah penting dalam upaya penguatan ini adalah edukasi nilai-nilai penting mataair dan perlindungan mataair untuk meningkatkan kepedulian sosial terkait perlindungan mataair.

 

Sebagai penutup, implementasi roh konservasi dalam semangat perlindungan mataair di era tatanan normal baru hendaknya dijalankan secara konsisten dan konsekuen.  Harapannya, kelestarian mataair akan terjamin sehingga dapat memenuhi kebutuhan dengan segala tuntutan yang mempunyai kualifikasi yang lebih tinggi.  Semangat perlindungan mataair diharapkan juga sebagai produk dari inisiatif dan kreativitas para pihak dalam pengelolaan mataair.  Dan pada akhirnya diharapkan kehidupan secara umum akan lebih tertata dan selaras dengan kondisi keseimbangan lingkungan yang baru.

;

Galery Foto & Video

Video


Foto
Responsive image Responsive image




Link Terkait

Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image