Responsive image Responsive image

Responsive image Responsive image
Responsive image


Berita Detail

dilihat 121x

KHDTK NUSA PENIDA BERKOMITMEN SEBAGAI KAWASAN RAMAH BURUNG


Responsive image


Burung merupakan salah satu satwa yang mempunyai peran cukup penting di dalam suatu ekosistem. Beberapa jenis burung mampu berperan menjadi agen penyerbukan ataupun sebagai agen penyebaran benih suatu jenis tanaman. Contohnya diantaranya burung madu sepah raja (Husain, Dharmono, & Kaspul, 2010), burung madu sriganti, dan pijantung kecil (Permadi et al., 2014). Selain pemakan buah ataupun biji, terdapat juga jenis burung yang merupakan predator bagi serangga misalnya Layang-layang (Delichon dasypus), Kutilang (Pycnonotus aurigaster), Bentet Kelabu (Lanius schach), Burung Gereja (Passer montanus) (Husain et al., 2010). Peran ini sangat berguna bagi kontrol perkembangan populasi serangga di alam atau sebagai agen penjaga keseimbangan.

Selain peran didalam suatu lingkaran ekosistem, burung juga mempunyai pengaruh yang besar terhadap kehidupan manusia. Beragamnya jenis burung dengan berbagai rupa tampilannya menjadi atraksi tersendiri dan dapat dinikmati oleh manusia sebagai sarana hiburan. Salah satu atraksi lain yang juga dimiliki oleh burung adalah kicauannya yang cukup beragam bentuknya. Bentuk keunikan dan kecantikan yang dimiliki oleh para burung ini telah berkembang menjadi suatu nilai yang dapat diperjual belikan. 

Semakin berkembangnya nilai jual beli burung di masyarakat selain memberikan dampak positif juga menimbulkan efek negatif terutama tekanan yang berat terhadap populasi burung di habitatnya. Perburuan burung masih terjadi secara masih baik yang terjadi di dalam kawasan maupun di luar kawasan hutan. Upaya penindakan perlu terus dilakukan guna menekan tingkat perburuan liar. Selain itu upaya konservasi juga harus terus dikembangkan untuk menjaga keberadaan berbagai jenis burung di habitat alaminya.  

A.   Inisiasi KHDTK sebagai kawasan ramah burung

KHDTK Nusa penida sebagai kawasan hutan yang ditujukan untuk riset dan pengembangan berupaya berkontribusi dengan mendeklarasikan sebagai kawasan ramah burung. Terdapat sejumlah alasan dan potensi yang mendasari penetapannya sebagai kawasan yang ramah terhadap kehidupan burung, terutama di Nusa penida. Berdasarkan cerita yang ada di masyarakat, pulau Nusa penida dulu menjadi rumah bagi berbagai jenis burung dan kini tidak dapat ditemukan lagi terbang atau hinggap di pohon-pohon yang ada, sebagai contoh burung kakatua jambul kuning. Dulu keberadaannya cukup mudah ditemukan, namun kini satu ekor pun sangat sulit. Masyarakat menganggap burung kakatua jambul kuning sebagai hama bagi tanaman pertanian mereka terutama tanaman jagung. Akibat konflik yang berkepanjangan menjadikan populasinya terancam hilang dari pulau Nusa penida.

Nusa penida merupakan pulau tersendiri yang berada di sebelah tenggara pulau Bali. Kondisi ini menjadi suatu kemudahan pengontrolan keluar masuknya satwa liar secara ilegal. Hal ini menjadi suatu peluang untuk menjadikan pulau nusa penida sebagai lokasi perlindungan atau konservasi satwa terutama jenis burung. Berdasarkan beberapa penelitian di Nusa Penida banyak berkembang jenis burung ada sekitar 80 jenis dan terdapat banyak jenis tanaman pakan (Sudaryanto & Suana, 2017). Di bagian barat Pulau Nusa Penida telah dijadikan lokasi penangkaran burung endemik bali yaitu burung Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) yang diinisiasi oleh Yayasan Pecinta Taman Nasional (Anonim, 2018).  Pulau Nusa penida juga menjadi kawasan konservasi esensial Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bali, dengan salah satu jenis satwa fokusnya adalah burung Kakatua jambul kuning. Beberapa alasan inilah yang menjadi dasar pengembangan KHDTK Nusa penida menjadi kawasan ramah burung.

B.   Program pengembangan

Konsep dasar penetapan kawasan ramah burung adalah menjadikan kawasan KHDTK Nusa penida sebagai habitat atau tempat tinggal dan berkembangnya berbagai macam satwa burung. Kawasan KHDTK diharapkan mampu memberikan pasokan pakan bagi burung serta sebagai tempat yang terlindungi terhadap ancaman perburuan. Guna mendukung progam tersebut maka kedepan telah disusun sejumlah langkah atau kegiatan yang sesuai. Pada tahapan awal dilakukan inventarisasi keragaman jenis burung dan keragaman jenis tanaman pakan yang ada di dalam kawasan KHDTK. Data yang diperoleh dapat dijadikan database potensi di kawasan KHDTK. Sosialisasi dan kerjasama berbagai pihak menjadi kunci langkah selanjutnya. Sosialisasi dapat berupa pemasangan rambu-rambu atau signboard di sekitaran kawasan serta melalui media-media yang lain. Kerjasama dengan masyarakat sekitar kawasan menjadi point penting dikarenakan mereka adalah stakeholder terdekat dan berhubungan langsung dengan kawasan KHDTK.

Kegiatan ketiga yang menjadi inti program adalah pembangunan kawasan hutan KHDTK Nusa penida dengan mempertimbangkan keberadaan dan kebutuhan satwa burung. Sebagai contoh dengan menggunakan jenis tanaman yang manjadi pakan sebagai jenis prioritas penanaman di kawasan KHDTK. Pemantauan dan pemeliharaan kondisi habitat burung baik dari segi perkembangan satwa maupun tempat hidupnya menjadi kegiatan yang akan dijalankan secara reguler. Setelah program berjalan dengan baik diharapkan kedepan dapat diperoleh juga manfaat bagi sektor yang lain misalnya pengembangan sarana bird watching sehingga memberikan manfaat yang lebih luas.

C.   Potensi awal di KHDTK Nusa penida

Berdasarkan hasil pengamatan sekilas di kawasan KHDTK Nusa penida telah berhasil ditemukan sejumlah jenis burung yang telah berkembang biak, terbang dan hinggap pada beberapa tanaman pakan yang ada. 

1.      Burung sugem bali

Burung Ducula sp. sering disebut dengan nama lokal sebagai burung Sugem Bali. Burung ini juga disebut dengan nama burung pergan atau terkadang disebut sebagai imperial pigeon. Termasuk dalam suku Columbidae dan merupakan burung pemakan buah atau biji. Berdasarkan peraturan Menteri LHK No. P.92 MENLHK/SETJEN/KUM.1/8/2018, burung ini tidak termasuk kedalam satwa yang dilindungi sedangkan status konservasinya masuk dalam kategori  LC (least concern) (IUCN, 2016).

2.      Burung cucak kutilang

Burung kutilang merupakan salah satu burung yang cukup terkenal di indonesia. Burung dengan nama latin  Pycnonotus aurigaster  ini hampir selalu mudah ditemukan di semua wilayah indonesia. Di dalam kawasan KHDTK Nusa penida, burung kutilang sering ditemukan terbang secara berkelompok dari satu pohon ke pohon lainnya. Burung kutilang bukan termasuk hewan dilindungi dan status konservasinya menurut IUCN masuk kategori LC.

3.      Burung pleci limau

 

Burung pleci Zosterops chloris atau sering juga disebut dengan burung kacamata laut. Terkadang dikenal juga dengan sebutan lemon-bellied white-eyes. Warnanya yang seperti buah lemon dengan bulu sekitar mata berwarna putih menjadikannya mudah dikenali. Burung pleci Zosterops chloris banyak dipelihara masyarakat karena dikenal sebagai burung kicau.

4.      Burung Tledekan gunung

 

Burung Tledekan gunung yang memiliki nama latin Cyornis banyumas termasuk jenis burung kicau yang cukup terkenal di masyarakat. Berdasarkan data IUCN, populasi burung ini cenderung menurun secara global namun masih dengan status LC (resiko rendah)  (IUCN, 2019).

Pustaka

Anonim. (2018). Jalak Bali dapat| Jalak Bali Proyek Konservasi di Nusa Penida | Yayasan Pecinta/Penyantun Taman Nasional. Retrieved October 20, 2020, from https://www.fnpf.org/what-we-do/nusa-penida-bali/wildlife/bali-starling-conservation-project?lang=id

Husain, Z., Dharmono, & Kaspul. (2010). Jenis Dan Kerapatan Burung Di Kawasan Agropolitan Kecamatan Mandastana Kabupaten Barito Kuala. Wahana-Bio, IV(2), 42–53.

IUCN. (2016). Ducula aenea, Green Imperial-pigeon (Vol. 8235). https://doi.org/http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2016-3.RLTS.T22725586A94896636.en

IUCN. (2019). Cyornis banyumas (Hill Blue-flycatcher). Retrieved from https://www.iucnredlist.org/species/22735899/152682790

Permadi, D., Rasyidi, R., Hafizh, M., Nurrachman, Z., Ramadian, A., Perairan, T. H., … Pertanian Bogor, I. (2014). Distribusi burung kampus ITB Jatinangor sebagai kawasan penyangga hutan lindung gunung Manglayang. In Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional Program Kreativitas Mahasiswa - Penelitian 2014. Indonesian Ministry of Research, Technology and Higher Education. Retrieved from www.itb.ac.id/news/3071.xhtml

Sudaryanto, & Suana, I. W. (2017). Keanekaragaman Burung Di Daerah Ekotone Oriental-Wallacea. In Seminar Nasional Biologi Wallacea 2017 Prodi Biologi Universitas Mataram 8-9 November 2017. Mataram: Prodi Biologi FMIPA Universitas Mataram.

 

;

Galery Foto & Video

Video


Foto
Responsive image Responsive image




Link Terkait

Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image