Responsive image Responsive image

Responsive image Responsive image
Responsive image


Berita Detail

dilihat 38x

Insektisida Nabati Biji Mimba Efektif Basmi Ulat


Responsive image


Tanaman mimba/imba/intaran (Azadiractha indica) sejak lama telah digunakan oleh masyarakat jaman dulu untuk mengusir hama/penyakit pada tanaman palawija. Kebiasaan ini berangsur-angsur ditinggalkan karena banyak perusahaan yang memproduksi pembasmi hama dan penyakit dari bahan kimia. Masing-masing produk baik kimiawi maupun alami memang memiliki kelebihan dan kekurangan.

 

Berbagai pengalaman membuktikan penggunaan penggunaan pestisida/insektisida kimia unggul dalam reaksi terhadap hama/penyakit sangat cepat, apalagi jika takaran penggunaannya berlebih, pasti langsung KO itu OPT (Organisme Pengganggu Tanaman). Penggunaannya  yang berlebihan dapat mengakibatkan meningkatnya akumulasi residu pestisida di alam yang sulit terurai, ini berakibat buruk pada kualitas lingkungan hidup juga kesehatan masyarakat. Berbeda dengan pestisida nabati, yang dikenal lebih ramah lingkungan. Kelebihannya bersifat mudah terurai di alam, sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan.   Namun demikian dalam pengembangannya di Indonesia, terdapat beberapa kendala antara lain, pestisida nabati tidak bereaksi cepat atau relatif lambat membunuh hama.

Prilaku manusia selalu dinamis, dulu yang alami dianggap kuno, namaun di jaman sekarang cenderung beralih lagi pada kebiasaan lama. Tentunya dengan berbagai modifikasi iptek. Saat ini telah banyak dilakukan ujicoba penggunaan insektisida berbahan nabati. Salah satu tanaman yang sudah banyak dikenal dapat digunakan sebagai insektisida nabati adalah tanaman mimba. Bagian tanaman mimba yang sering digunakan sebagai bahan baku insektisida adalah daun dan biji. Zat azadirachtin yang terkandung di dalam kedua bagian tanaman tersebut dianggap sebagai bahan yang berperan dalam mempengaruhi kematian serangga.

Sebut saja Pak Ali, Peneliti Balitbangtek HHBK ini telah melakukan ujicoba peningkatan perlakuan lama perendaman biji mimba hingga lima hari untuk meningkatkan kemampuan biji mimba dalam mempengaruhi kematian hama ulat Heortia vitessoides yang biasa menyerang daun Grynops versteegii yang dikenal sebagai penghasil gaharu. Hasilnya menunjukkan persen kematian ulat Heortia vitessoides hingga hari terakhir pengamatan tidak berbeda secara signifikan. Hal ini menggambarkan perlakuan lama perendaman tidak cukup signifikan  mempengaruhi prosentase kematian ulat Heortia vitessoides.

 

Rata-rata persentase kematian ulat Heortia vitessoides hingga hari terakhir pengamatan adalah sebesar 60,63%. Persentase terbesar terjadi pada perlakuan lama rendam dua hari sebesar 77,78%, sedangkan yang terkecil terjadi pada perlakuan lama rendam satu hari yaitu sebesar 50%. Dengan merendam selama satu hari persentase kematian ulat sebesar 50%, dengan menambah satu hari lagi dalam merendam meningkatkan kematian ulat sebesar 27,78%. Namun demikian dengan menambah lagi waktu perendaman hingga lima hari, persentase kematian ulat menjadi menurun hingga menjadi sebesar 63,33%. Dengan demikian maka perlakuan lama rendam dua hari menjadi perlakuan paling efektif, dikarenakan mampu mengakibatkan kematian ulat Heortia vitessoides dengan persentase yang paling besar.

Sesaat setelah penyemprotan menunjukkan tidak terjadi kematian ulat di semua perlakuan yang diujikan. Kematian ulat H.vitessoides pertama kali ditemukan pada hari pertama pengamatan, namun 

jumlahnya masih cukup kecil yaitu rata-rata hanya sebesar 5%. Kematian ulat diatas 50% dicapai pada hari ketiga pengamatan dalam perlakuan lama rendam 2, 4, dan 5 hari, sedangkan perlakuan lama rendam 3 hari terjadi di hari kelima, dan perlakuan rendam 1 hari pada hari kutujuh.  Hingga hari ketiga pengamatan, kematian ulat diperlakuan lama rendam 5 hari paling tinggi diantara yang lain dan setelah hari keempat kematian ulat di perlakuan lama rendam 2 hari menjadi yang tertinggi hingga akhir pengamatan.

Kematian ulat akibat insektisida biji mimba tidak langsung terjadi setelah proses penyemprotan, perlakuan perendaman lima hari mengakibatkan kematian ulat lebih besar daripada perlakuan lain hingga tiga hari setelah semprot dan kemudian bertambah secara lambat dengan kematian maksimal di akhir pengamatan sebesar 63,33%. Kematian ulat Heortia vitessoides secara signifikan mulai terlihat pada pengamatan tiga hari setelah semprot. hasil tersebut sependapat dengan Indiati (2009), pada sumber lain yang menjelaskan bahwa cara kerja dari biji mimba itu berdasarkan kandungan bahan aktif hasil metabolit sekunder berupa azadirachtin meliantriol, salanin, dan nimbin. Senyawa aktif tersebut tidak membunuh hama secara cepat, tapi berpengaruh terhadap daya makan, pertumbuhan, daya reproduksi, proses ganti kulit, menghambat perkawinan dan komunikasi seksual, penurunan daya tetas telur, dan menghambat pembentukan kitin.

Semoga dengan banyaknya temuan baru baik jenis tanaman maupun teknik aplikasinya dalam mengendalikan serangan hama maupun penyakit pada tanaman khususnya, dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan dan bermanfaat bagi pengembangan teknologi penanganan organisme pengganggu tanaman. 

Informasi ilmiah ada di link berikut http://balitbangtek-hhbk.org/2021/04/unggah4-publikasi83/tampilkan-list.

Prosiding Seminar Nasional HHBK 2014 halaman 181-189

;

Galery Foto & Video

Video


Foto
Responsive image Responsive image




Link Terkait

Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image Responsive image